Minggu, 10 Februari 2008

Link Exchange


In Memoriam: Link Exchange


Link Exchange Is Dead Images


Menit2 menjelang diselenggarakannya workshop bisnis internet yg pertama di Surabaya, mari simak bahasan berikut mengenai kontroversi keputusan terbaru dari Google yg memberikan penalti bagi situs2 yg melakukan (paid) link exchange, baik pembeli maupun penjual. Meskipun tidak ada hubungannya dengan workshop nanti, setidaknya bisa menghibur teman2 yg tidak bisa hadir, hehehe.



Google, The Murderer. Sucks.


Sebelum secara resmi di-follow-up oleh pihak Google, sekitar 1.5 - 2 bulan lalu Matt Cutts telah menyebutkan bahwa Google akan segera menindak para pelaku link exchange berbayar karena dianggap merusak kemurnian hasil algoritma PageRank.
selanjutnya........

Memang, kebanyakan webmaster (termasuk saya) melakukan praktek jual-beli tautan untuk meningkatkan PageRank dan mengangkat posisi situs mereka di mesin pencari.


Pada saat terjadinya PR updet terakhir, saya beberapa kali menginformasikan bahwa banyak situs dengan PR tinggi yg mengalami penurunan, dan sebaliknya, situs2 dengan PR rendah / nol mengalami kenaikan PR yg termasuk tidak normal. Ini adalah efek dari penalti paid link exchange yg secara diam2 telah dilakukan oleh Google *sebelum* diumumkan secara resmi di official blog mereka.

Mengapa sucks? Karena secara pribadi saya tidak melihat ada yg salah dengan bisnis tautan ini. PageRank sudah terbukti tidak berhubungan dengan ranking search engine situs kita, namun justru (anehnya) Google tidak berpendapat sama.


Buying links in order to improve a site’s ranking is in violation of Google’s webmaster guidelines and can negatively impact a site’s ranking in search results.



Jika membeli link dianggap haram karena menodai hasil perhitungan PageRank, sedangkan PageRank sendiri tidak berhubungan dengan SERP, kenapa disebutkan bahwa paid link dapat mempengaruhi hasil pencarian dengan menyebut2 PR?


Jumlah backlink tidak selalu sejalan dengan tingginya PageRank. Ada aspek2 lain yg diperhitungkan, semisal kualitas situs tempat tautan berada. Banyaknya backlink memang terbukti dapat mem-boost posisi situs kita di mesin pencari, namun sekali lagi, tidak berhubungan dengan PageRank. Itulah sebabnya saya katakan bahwa Google terlalu “mencari-cari alasan”.

Kali ini saya rasa Google melangkah terlalu jauh. Sucks.


Link Exchange, The Victim. Poor.


Jika paid link dianggap melanggar aturan mesin pencari, khususnya Google, lalu apa efeknya? Jelas, situs2 perantara bisnis jual-beli tautan seperti Text-Link-Ads (TLA) akan sekarat. TLA memang sudah menyiapkan antisipasinya dengan sistem Post-Level Ads dan InLink (masih dalam tahap closed-beta), namun bukan berarti Google tidak akan menggerecokinya di kemudian hari.


Yang lebih parah, secara umum praktek link exchange akan mati. Kenapa? Karena algoritma secanggih apa pun tidak mungkin dapat mendeteksi mana tautan2 yg berbayar dan mana yg tidak. Jika saya berikan link ke ShockedMedia di sidebar dan Anda baru kali ini berkunjung ke situs ini, apakah Anda dapat mengetahui link tersebut bersifat komersil atau tidak? Tentu tidak.


Google memang memberikan solusi, tapi solusi tersebut benar2 mematikan fungsi utama dari kegiatan link exchange.


Yg pertama, menambahkan “rel=nofollow” pada tag HREF.


Yg kedua, melewatkan URL tujuan ke script redirect terlebih dahulu dimana script ini sudah diblok terlebih dahulu aksesnya melalui robots.txt.


Mana yg Anda pilih?


Alternative Solution, The Cure. Maybe.


Ada beberapa cara untuk menyelamatkan link exchange dari kematian. Efektif tidaknya saya belum tahu, tapi tidak ada salahnya untuk dicoba.



  1. Menghindari meletakkan link exchange, baik berbayar atau tidak, di bagian yg menyolok. Misalnya, di area yg bertuliskan “Partners”, “Sponsored Links” dan sebagainya. Baca artikel “Watch Where You Place Those Links” untuk lebih jelasnya.

  2. Menyamarkan keberadaan link exchange. Agak sulit jika menggunakan sistem otomatis ala TLA, tapi jika Anda menambahkan link secara manual, cobalah untuk meletakkannya dalam bentuk kalimat. Atau di bagian akhir salah satu artikel Anda misalnya.


Silahkan dicoba.



Artikel ini ditulis oleh Cosa Aranda dan pertama kali dipublikasikan pada tanggal 17 June 2007. Artikel bebas untuk didistribusikan ulang untuk keperluan non-komersil selama mencantumkan nama penulis dan sumber artikel serta tidak merubah separuh atau seluruh bagian dari isi.

Tidak ada komentar:

Cara Scan Barcode Raket Lining asli atau Palsu

Tipe A disini :  http://mes.li-ning.com.cn/LNAC/LN_ANTI_QUERYEN.ASPX Tipe B : https://digitac.zhsh.co/lining/QueryPage2.aspx